Pembaca tercinta, kami akan menggunakan izin cookie yang sesuai untuk memastikan situs web kami beroperasi dengan normal agar dapat memberi konten khusus yang lebih cocok untuk Anda dan juga memastikan Anda mendapatkan pengalaman membaca terbaik. Jika ada yang sesuai, Anda dapat mengubah izin Anda pada entri pengaturan Cookie di bawah ini.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Tambahkan Innovel ke halaman utama untuk menikmati novel terbaik.
Pembaca tercinta, kami akan menggunakan izin cookie yang sesuai untuk memastikan situs web kami beroperasi dengan normal agar dapat memberi konten khusus yang lebih cocok untuk Anda dan juga memastikan Anda mendapatkan pengalaman membaca terbaik. Jika ada yang sesuai, Anda dapat mengubah izin Anda pada entri pengaturan Cookie di bawah ini.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Pengaturan cookies anda
Pengaturan cookies ketatSelalu aktif
Sentuhan Panas Sugar Daddy Mafia
UMUR UNTUK MEMBACA 18+
Agneslovely2014
Steamy Stories
ABSTRAK
Seorang pria sembari berlari sempoyongan karena perutnya robek tertusuk pisau belati tajam. Darah mengucur deras dari bekas luka baru itu.
Dari arah belakangnya suara tembakan berdesing berulang kali dengan hujan peluru timah panas meluncur ganas dari mulut pistol pengejar-pengejarnya.
Jeannete Parker baru saja menyelesaikan shift sore hingga nyaris tengah malam di coffeeshop and bar Starla's. Dia merasa letih dan tidak menyadari bahwa ada pria yang mengikutinya dari belakang hingga sampai di depan pintu apartemen dengan uang sewa bulanan murah itu.
"Nona, apa bisa aku mampir sebentar di tempat tinggalmu? Akan kuberi uang dalam jumlah fantastis kalau kau mau berbaik hati!" bujuk Jerome Drake sembari menekan luka di perutnya yang berdarah-darah.
Gadis bermata blue marine cemerlang itu terkesiap ketakutan. Namun, instingnya mengatakan pria di hadapannya akan mati malam ini juga jika dia menolak mengulurkan tangan membantunya. Segera Jean memasukkan anak kunci dengan tangan gemetar hebat. "A—aku akan menolongmu, tapi berjanjilah jangan menyakitiku, Sir!" ucapnya terbata-bata karena detak jantungnya berpacu dalam rongga dadanya.
"Pasti! Jangan meragukan kata-kataku, Nona Kecil. Tolong papah aku masuk!" jawab Jerome yang merasa ingin pingsan akibat kehilangan banyak darah.
Tanpa banyak bicara Jeannete segera menopang badan sebesar beruang Grizzly itu masuk ke gedung apartemennya. Mereka naik lift menuju lantai tiga dan Jean berusaha tidak ikut pingsan karena harus menahan bobot lebih dari dua kali dirinya.
Pintu unit apartemennya segera dia buka dan Jean membawa Jerome terlebih dahulu ke sofa berukuran sedang yang nampak terlalu sempit untuk pria tersebut. Seperti terbang, Jean berlari menutup pintu lagi. Dia seorang mahasiswi tahun ketiga di fakultas kedokteran sebuah universitas terkemuka di New York, pastinya Jean paham seberapa gawat kondisi pasiennya.