Innovel - JEJAK KASIH IBU
close button

Tambahkan Innovel ke halaman utama untuk menikmati novel terbaik.

JEJAK KASIH IBU
book-rating-imgUMUR UNTUK MEMBACA 18+
Wahyudi nabu
Romance
ABSTRAK
Bab 1: Cahaya Fajar, Kebohongan Indah, dan Tangan Penuh Luka Langit malam belum sepenuhnya berganti warna, bintang-bintang masih tampak bersinar malas di angkasa yang mulai memudar gelapnya. Udara pagi yang dingin menusuk kulit, namun di dalam rumah kayu kecil itu, kehangatan sudah terasa menyelimuti setiap sudut ruangan. Sebuah lampu minyak tua dengan kaca yang sedikit berdebu menyala redup, memancarkan cahaya kuning keemasan yang bergoyang-goyang setiap kali angin malam menyelinap masuk lewat celah-celah dinding bambu. Di bawah sinar lampu itulah, sosok yang paling kusayangi di dunia ini sudah bergerak lincah sejak lama: Ibuku. Namanya Siti. Orang-orang di desa biasa memanggilnya Bu Siti. Ia bukan wanita yang kaya raya, bukan pula wanita yang berpendidikan tinggi atau memiliki jabatan terhormat. Ia hanyalah seorang wanita desa sederhana, yang hidupnya hanya berputar di sekitar ladang, dapur, dan anak tunggalnya—yaitu aku. Namun bagiku, Ibu adalah wanita terhebat yang pernah ada. Sosoknya adalah pilar yang menopang seluruh hidupku, sumber kekuatan yang tak pernah habis, dan pelita yang cahayanya tak pernah redup meski diterpa badai kehidupan yang paling dahsyat sekalipun. Namaku Rian. Aku lahir dan besar di desa yang terletak agak terpencil, jauh dari hiruk-pikuk kota besar. Seingatku, aku tak pernah melihat sosok Ayah. Orang-orang bercerita bahwa Ayah pergi meninggalkan kami saat aku baru berusia beberapa bulan, entah ke mana dan tak pernah kembali lagi. Kabar burung mengatakan ia pergi merantau dan memiliki keluarga baru di tempat lain, namun Ibu tak pernah mau membahas hal itu. Setiap kali aku bertanya, ia hanya akan tersenyum samar, mengusap kepalaku, dan berkata, "Sudah cukup ada Ibu dan kamu, Nak. Kita berdua sudah lengkap." Sejak saat itu, aku paham bahwa bagi kami, dunia hanyalah kami berdua. Ibu berperan ganda: menjadi Ayah yang tegas dan pelindung, serta menjadi Ibu yang penuh kasih dan penyayang. Pagi itu, sama seperti ribuan pagi sebelumnya, aku terbangun karena aroma harum yang samar namun begitu khas menusuk hidung. Itu bau nasi yang sedang dimasak dicampur dengan aroma sambal terasi yang sedang diulek. Aroma yang menjadi ciri khas rumah kami, aroma yang selalu membuat perutku terasa lapar sekaligus hatiku terasa damai. Aku menggeser kain penutup tubuhku yang tipis, lalu duduk di pinggir pembaringan sambil mengucek mata yang masih berat. Dari balik tirai kain yang sudah lusuh, aku melihat punggung Ibu yang ramping namun tampak kokoh berdiri di dekat tungku api. Ia sedang mengaduk kuali besar dengan sendok kayu yang sudah halus karena sering dipakai. Tubuhnya yang kecil itu bergerak lincah, seolah tak ada beban berat yang sedang dipikulnya. Di balik baju kebaya lusuh yang selalu ia kenakan, tersembunyi ketabahan yang luar biasa. Kulihat tangannya. Ah, tangan itu. Tangan yang tak sehalus sutra, tak selembut kapas. Kulit di telapak dan punggung tangannya berwarna gelap, kasar, dan penuh kapalan. Ada banyak garis-garis halus yang menorehkan cerita panjang tentang lelah dan kerja keras. Di sana-sini terlihat bekas luka kecil, sisa goresan duri tanaman atau cengkerik saat bekerja di ladang. Namun, tangan itulah yang setiap malam mengusap kepalaku hingga aku terlelap. Tangan itulah yang selalu memelukku erat saat aku diganggu rasa takut atau sakit. Tangan kasar itu adalah tempat paling nyaman dan aman di seluruh dunia bagiku. "Ibu sudah bangun dari tadi ya?" tanyaku dengan suara serak sambil melangkah mendekat. Ibu menoleh, wajahnya yang berkerut samar tersenyum melihatku. Senyum itu selalu sama—penuh kehangatan, meneduhkan segala kekhawatiran. "Eh, sudah bangun Nak? Maaf ya kalau suaraku berisik sampai membangunkanmu," jawabnya lembut, lalu melanjutkan pekerjaannya mengaduk nasi. "Ibu tidak bisa tidur nyenyak kalau belum menyiapkan makanan buat kamu. Hari ini kamu kan harus ke sekolah, harus makan kenyang biar otakmu encer belajarnya." Aku mendekat dan berdiri di sampingnya, menatap wajahnya yang diterpa cahaya api tungku. Di sana, di sudut matanya, aku mulai melihat garis-garis kerutan yang makin jelas tergambar. Kerutan yang menjadi saksi bisu perjuangannya menghadapi kerasnya hidup. Rambut hitamnya yang dulu indah, kini mulai tampak helai-helai putih yang menyelinap, meski ia selalu berusaha menyembunyikannya dengan mengikatnya rapi ke belakang. "Bu," panggilku pelan. "Kapan kita bisa tidur sampai matahari tinggi? Rasanya Ibu tidak pernah istirahat ya." Ibu berhenti sejenak, lalu meletakkan tangannya di atas kepalaku, mengusapnya dengan lembut namun penuh rasa sayang. Matanya menatap lurus ke arah jendela yang terbuka, tempat langit mulai berubah warna dari hitam menjadi biru muda kemerahan. "Rian dengarkan Ibu ya," ucapnya dengan nada bicara yang tenang namun tegas, seolah sedang menanamkan sesuatu yang sangat penting ke dalam jiwaku. "Ibu tidak butuh harta yang menumpuk di rumah. Ibu tidak butuh pakaian yang indah atau perhiasan yang berkilau. Satu-satunya keinginan..

Perpustakaan

Temukan

search

Saya