Innovel - Bukan Hantu—Lalu Apa?
close button

Tambahkan Innovel ke halaman utama untuk menikmati novel terbaik.

Bukan Hantu—Lalu Apa?
book-rating-imgUMUR UNTUK MEMBACA 12+
kinderman
Suspense/Thriller
ABSTRAK
CHAPTER 1 – Malam saat semuanya dimulai. Hari-hari awal masuk SMP selalu terasa sama. Berisik. Penuh wajah asing. Dan penuh orang yang sibuk berusaha terlihat keren. Aku duduk di bangku belakang sambil menatap layar HP. Membuka Artikel tentang UFO dan UAP terbaru. Sebuah Foto buram. Cahaya aneh di langit. Orang-orang panik di kolom komentar. Aku tersenyum kecil. “Kalau ini asli... berarti mereka udah lama ada di sini.” “Ngapain lihat begituan?” Suara itu muncul tiba-tiba dari sampingku. Aku menoleh. Seorang anak berdiri di dekat mejaku. Kulitnya sedikit gelap, rambutnya agak berantakan, tapi pakaiannya terlalu rapi untuk ukuran anak SMP. Tatapannya aneh. “Apa?” tanyaku. Dia menunjuk layar HP-ku. “Itu bukan alien.” Aku mengernyit. “Terus?” Dia menjawab datar. “Itu hantu.” Aku langsung menghela napas pelan. “Hantu gak ada.” Dia menatapku tanpa tersinggung sedikit pun. “Alien juga.” Aku hampir tertawa. “Bedanya, alien lebih masuk akal.” “Buat kamu.” Aku memiringkan kepala. “Dan buat kamu, hantu lebih masuk akal?” Dia mengangguk kecil. “Iya.” Aku menatapnya beberapa detik. Anak ini aneh. Tapi anehnya bukan aneh yang bikin risih. Lebih seperti... seseorang yang benar-benar percaya pada hal yang dia omongin. Dia lalu duduk di bangku sebelahku tanpa izin. Aku meliriknya. “Nama kamu siapa?” “Raka.” Jawabannya singkat. “Kalau kamu?” “Yuka.” Raka mengangguk pelan. Lalu dia membuka tasnya. Aku sempat mengira dia mau mengambil buku. Ternyata bukan. Dia mengambil tasbih. Banyak. Satu melingkar di tangan. Satu di leher. dan satu digenggam di tangannya. Bahkan ada yang menggantung di pinggang tasnya. Aku menatapnya lama. “Kamu serius?” “Kenapa?” “Itu semua buat apaan?” “Biar aman.” Aku menahan tawa. “Dari hantu?” Dia menoleh pelan. “Kalau dari alien, kamu punya apa?” Aku terdiam. Gak punya jawaban. Lalu Bel masuk berbunyi, Guru mulai masuk. Dan sejak hari itu... Kami menjadi teman sebangku yang selalu memperdebatkan apa yang kami percayai. Beberapa hari kemudian.... “Tuh kan.” Raka menunjuk layar HP-ku. Aku mendengus. “Itu editan.” “Gak... Itu nyata, itu pocong.” “Itu orang pakai kain putih.” “Itu pocong.” “Itu orang.” "Itu pocong yuk, bukan orang yang memakai kain putih" Perdebatan itu sudah berlangsung hampir seminggu. Dan entah kenapa, kami belum bosan. Jam istirahat siang terasa panas. Kantin penuh. Kami akhirnya makan di belakang gedung sekolah. Aku duduk di tembok pendek sambil minum es teh. Raka sibuk memainkan tasbih di tangannya. “Kalau menurut kamu,” kataku, “kenapa hantu selalu muncul malam-malam?” “Karena manusia lebih takut malam.” “Itu bukan jawaban.” “Itu jawabannya.” Aku mengernyit. Kadang ngomong sama Raka terasa seperti ngomong sama orang tua random di internet. “Tapi serius,” lanjut ku, “kalau hantu emang ada, kenapa gak pernah jelas?” Raka diam sebentar. Lalu berkata pelan, “Karena mungkin mereka gak mau dilihat.” Aku hendak membalas, tapi suara beberapa anak kelas lain terdengar dari dekat lorong belakang. “Minggu lalu katanya ada orang lihat sesuatu di pabrik tua itu.” “Yang bekas peninggalan penjajah?” “Iya.” “Kata kakak gue tempat itu emang gak beres.” Aku melirik Raka. Dia juga mendengar. Tatapan kami bertemu. Dan aku langsung tahu. Dia pasti tertarik. Dan benar saja. “Ke sana yuk.” Aku hampir tersedak minuman. “Hah?” “Pabrik itu.” “Kamu gila?” “Kenapa?, takut?” “Aku bukan takut.” “Terus?” Aku diam. Raka menyandarkan badan ke tembok. “Kalau alien beneran ada, kamu pasti pengen bukti, kan?” Aku menatapnya curiga. “Dan kalau ternyata itu hantu?” Raka tersenyum tipis. “Berarti kita berdua sama-sama dapat jawaban.” Aku menghela napas panjang. Harusnya aku nolak. Harusnya. Tapi rasa penasaran memang lebih berbahaya daripada rasa takut. “Perginya kapan?” Raka langsung berdiri. “Malam Minggu.” “Kamu ternyata emang udah niat ya?", Tanyaku. “Aku udah nyari tempatnya dari kemarin.” Aku menatapnya tidak percaya. “Kamu nekat juga ternyata.” “Aku ingin buktiin tentang apa yang aku percayai selama ini.” Aku mendengus pelan. Dan bodohnya... Aku mulai penasaran juga. hingga akhirnya kami memutuskan pergi ke pabrik tua terbengkalai itu. Malam minggu pun tiba... Kami pergi ke tempat yang kami rencanakan sebelumnya Yaitu... pabrik tua terbengkalai itu.

Perpustakaan

Temukan

search

Saya