Pembaca tercinta, kami akan menggunakan izin cookie yang sesuai untuk memastikan situs web kami beroperasi dengan normal agar dapat memberi konten khusus yang lebih cocok untuk Anda dan juga memastikan Anda mendapatkan pengalaman membaca terbaik. Jika ada yang sesuai, Anda dapat mengubah izin Anda pada entri pengaturan Cookie di bawah ini.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Tambahkan Innovel ke halaman utama untuk menikmati novel terbaik.
Pembaca tercinta, kami akan menggunakan izin cookie yang sesuai untuk memastikan situs web kami beroperasi dengan normal agar dapat memberi konten khusus yang lebih cocok untuk Anda dan juga memastikan Anda mendapatkan pengalaman membaca terbaik. Jika ada yang sesuai, Anda dapat mengubah izin Anda pada entri pengaturan Cookie di bawah ini.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Pengaturan cookies anda
Pengaturan cookies ketatSelalu aktif
SEORANG PEREMPUAN DETEKTIF YANG KEHILANGAN INGATANYA
UMUR UNTUK MEMBACA 18+
Rahmi
Fantasy
ABSTRAK
Berikut adalah draf Bab 1 untuk novel Anda.BAB 1: Kepingan yang HilangCahaya lampu meja yang redup adalah satu-satunya teman setia Inspektur Elara di ruang kerjanya yang dingin dan penuh sesak. Di hadapannya terhampar sebuah papan buletin yang menjadi saksi bisu dari kegagalan terbesar dalam karirnya: 'Pembunuhan Elang'. Kasus yang menghancurkan hidupnya, dan yang ironisnya, menjadi kasus terakhir yang dia tangani sebelum dunia di sekitarnya runtuh.Elara memandang papan itu dengan tatapan kosong. Di sana, di antara foto-foto korban, garis merah, dan catatan tulisan tangan yang berantakan, ada lubang besar yang menganga dalam ingatannya. Tepat di tengah papan itu, ada ruang kosong di mana sebuah foto penting seharusnya berada—foto 'sang Dalang', pria yang dia yakini berada di balik semua ini. Namun, dia tidak tahu wajahnya. Dia tahu namanya, Dr. Adrian, tetapi tidak lebih dari itu.Tiga bulan yang lalu, sebuah ledakan bom di tempat persembunyian Adrian menghancurkan kantornya. Elara selamat, tapi ingatannya tidak. Bagian penting dari otaknya—ingatan jangka pendek selama dua minggu sebelum ledakan—telah terhapus. Dua minggu yang krusial, di mana dia seharusnya mengumpulkan bukti kuat untuk menangkap Dr. Adrian.Kini, dua bulan setelah sadar dari koma, dia masih berjalan di dalam kegelapan. Dia tidak mengingat wajah putrinya, Maya. Dia tidak mengingat senyum suaminya, David. Yang dia miliki hanyalah catatan medis, foto-foto mereka yang diambil diam-diam untuk membantunya 'mengingat', dan keyakinan yang membara di dadanya bahwa pembunuh Elang belum selesai.Suara ketukan pelan di pintu mengejutkannya dari lamunan. Seorang pria berjanggut lemas masuk, membawa dua cangkir kopi. Itu adalah David."Elara," katanya pelan, wajahnya lelah namun penuh kekhawatiran. "Kau sudah bekerja sepanjang malam. Istirahatlah sebentar."Elara memaksakan senyum. "Aku baik-baik saja, David. Aku hanya... merasa sangat dekat dengan jawabannya. Ada sesuatu yang terlewatkan di sini. Sesuatu yang sangat jelas."David meletakkan cangkir kopi di atas meja, lalu mendekati papan itu dan menunjuk sebuah foto. "Elara, kau tahu siapa pria ini? Ini adalah korban pertama, Tuan Hartono. Kasusnya sudah ditutup. Polisi sudah menangkap pelakunya.""Tidak," Elara menggelengkan kepalanya dengan keras kepala. "Pelaku yang tertangkap adalah pion. Dr. Adrian adalah pemain utamanya. Dia membunuh Tuan Hartono karena dia tahu terlalu banyak tentang rencana proyek Elang."David menatapnya dengan campuran kasihan dan frustrasi. "Proyek Elang, Elara... itu semua sudah berakhir. Kau sudah berhalusinasi tentang itu selama berminggu-minggu. Berhenti mengejar hantu yang sudah tidak ada."Elara menatap suaminya dengan tajam. Dia tidak bisa menjelaskan keyakinannya. Bagaimana dia bisa menjelaskan bahwa dia merasakan kehadiran Dr. Adrian di sekitarnya? Bahwa dia mencium bau ozon setiap kali dia mendekati kebenaran, bau yang sama dengan bom yang merenggut ingatannya?"Aku tidak bisa berhenti, David," bisiknya. "Kalau aku berhenti, dia akan menang. Dan aku takut... aku sangat takut dia akan datang untuk kita."David menghela napas, sebuah tanda kekalahan. Dia menyentuh bahu istrinya. "Aku tahu kau takut, Elara. Tapi kau bukan lagi inspektur yang dulu. Kau kehilangan dirimu sendiri dalam kasus ini."Kata-kata David menghantamnya seperti pukulan. Dia adalah inspektur yang dulu. Dia harus percaya itu. Dia harus memulihkan dirinya sendiri sebelum monster yang dia buru kembali untuk menyelesaikan pekerjaannya.Tiba-tiba, pandangan Elara tertuju pada sebuah kotak kardus tua di sudut ruangan. Kotak yang selama ini dia hindari untuk dibuka karena dia tahu isinya adalah bukti yang tidak ingin dia ingat. Bukti tentang hari di mana segalanya berubah.Dia perlahan berjalan menuju kotak itu, jantungnya berdetak kencang di dadanya. David menatapnya dengan ngeri. "Elara, jangan. Kumohon jangan lakukan ini."Elara mengabaikannya. Dia membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah pistol, sarung tangan, dan sebuah buku catatan bersampul kulit hitam. Buku catatan itu bertanggal dua minggu sebelum ledakan. Itu adalah jurnalnya.Dengan tangan gemetar, dia membuka jurnal itu. Halaman demi halaman penuh dengan tulisan tangannya sendiri yang panik dan tergesa-gesa.12 Mei: Adrian semakin dekat. Dia tahu aku sedang mengawasinya. Aku harus lebih hati-hati.13 Mei: Aku menemukan bukti! Proyek Elang adalah kedok untuk penyelundupan senjata biologis. Adrian adalah dalangnya. Aku punya nama-nama kontaknya.14 Mei: Aku tidak bisa memberitahu siapa pun di kepolisian. Mereka semua korup. Aku sendiri yang akan menghadapinya.15 Mei: Hari ini aku akan menangkapnya. Aku akan mengakhiri ini.16 Mei: Bom.Elara menjatuhkan jurnal itu. Ingatannya kembali, bukan sebagai kilas balik, melainkan sebagai beban yang menghancurkan. Dia tahu hari itu. Dia pergi ke gudang tua di pelabuhan. Dia menghadapi Dr. Adrian. Dia melihatnya menekan tombol.Dan kemudian, dia men