Pembaca tercinta, kami akan menggunakan izin cookie yang sesuai untuk memastikan situs web kami beroperasi dengan normal agar dapat memberi konten khusus yang lebih cocok untuk Anda dan juga memastikan Anda mendapatkan pengalaman membaca terbaik. Jika ada yang sesuai, Anda dapat mengubah izin Anda pada entri pengaturan Cookie di bawah ini.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Tambahkan Innovel ke halaman utama untuk menikmati novel terbaik.
Pembaca tercinta, kami akan menggunakan izin cookie yang sesuai untuk memastikan situs web kami beroperasi dengan normal agar dapat memberi konten khusus yang lebih cocok untuk Anda dan juga memastikan Anda mendapatkan pengalaman membaca terbaik. Jika ada yang sesuai, Anda dapat mengubah izin Anda pada entri pengaturan Cookie di bawah ini.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Pengaturan cookies anda
Pengaturan cookies ketatSelalu aktif
Gadis yang Tak Pernah Kurencanakan
UMUR UNTUK MEMBACA 4+
shobahsense
Romance
ABSTRAK
Bagi Raka Aditya, cinta adalah variabel tidak rasional yang hanya mengacaukan rencana masa depan. Hidupnya tertata rapi di balik angka-angka statistik dan sudut tenang ruang kuliah 302 adalah tempat aman yang ia jaga rapat agar tidak ada orang yang bisa menyentuh luka perceraian orang tuanya.
Semua pertahanan itu runtuh di hari pertama semester baru, ketika Nara Kirana duduk di kursinya, menyeruput s**u kotak, dan menolak bergeser dengan senyuman yang menyebalkan.
Dari perdebatan konyol berebut bangku, tugas riset ekonomi yang memaksa mereka bersama, hingga obrolan larut malam di kedai kopi kecil, Raka mendapati dirinya perlahan kalah pada perasaan yang tak pernah ia rencanakan. Namun, mencintai Nara ternyata menuntut harga yang teramat mahal. Ketika bayang-bayang masa lalu Nara kembali hadir, tuntutan dinasti keluarga menekan, dan ambisi karier di ibu kota menciptakan jarak ratusan kilometer, keduanya terpaksa menghadapi kenyataan pahit: kebiasaan diam dan rasa tidak aman perlahan meracuni apa yang mereka bangun.
Mereka pernah saling memilih, saling melukai, hingga akhirnya terpaksa saling melepaskan agar tidak kehilangan diri sendiri.
Kini, setelah waktu dan jarak menempa mereka menjadi pribadi yang baru, sebuah pertanyaan lama kembali mengetuk pintu hati: Apakah cinta pertama benar-benar mampu bertahan ketika kenyataan tak lagi menyisakan ruang untuk kepalsuan?
“Aku tidak pernah berencana mencintainya. Masalahnya, hati tidak pernah meminta izin sebelum jatuh cinta.”