Pembaca tercinta, kami akan menggunakan izin cookie yang sesuai untuk memastikan situs web kami beroperasi dengan normal agar dapat memberi konten khusus yang lebih cocok untuk Anda dan juga memastikan Anda mendapatkan pengalaman membaca terbaik. Jika ada yang sesuai, Anda dapat mengubah izin Anda pada entri pengaturan Cookie di bawah ini.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Tambahkan Innovel ke halaman utama untuk menikmati novel terbaik.
Pembaca tercinta, kami akan menggunakan izin cookie yang sesuai untuk memastikan situs web kami beroperasi dengan normal agar dapat memberi konten khusus yang lebih cocok untuk Anda dan juga memastikan Anda mendapatkan pengalaman membaca terbaik. Jika ada yang sesuai, Anda dapat mengubah izin Anda pada entri pengaturan Cookie di bawah ini.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Pengaturan cookies anda
Pengaturan cookies ketatSelalu aktif
Mahkota tanpa Tahta
UMUR UNTUK MEMBACA 18+
Naini_Nay
Realistic Urban
ABSTRAK
"Kamu sekarang berani ya sama ibu! " ucap wanita itu dengan nada menggebunya. Sedangkan di sisi lain ada ibu muda yang lebih geram menahan semua rasa sesak di dadanya.
"Bu, dia tidak akan seperti itu jika ibu tidak memulainya."
"Mulai bagaimana? Bukankah ibu berkata benar mas?! "
'Sabar... sabar ... ' batin ibu muda itu dengan tangan gemetarnya memegang sendok berisi nasi yang sampai tidak kuat untuk ia masukan ke dalam mulut.
"Loh ... ibu kalau gak mau Syafa membantah makanya ibu juga harus bisa instrospeksi diri. Jangan bisanya menyalahkan aja, dia juga perempuan sama seperti ibu, tapi kenapa ibu tidak paham jika apa yang ibu ucapkan berulang itu menyakiti hatinya! "
Lagi, pembelaan itu terus di dengar oleh telinga ibu muda tadi.
"Tuh, lihat! " sarkasnya sambil menunjuk-nunjuk.
"Apasih Bu, aku cuma mau tenang! Nggak lebih. Aku cuma mau ibu diem, dan jangan terlalu mencampuri urusanku atau hidupku. Ibu boleh menasihatiku, tapi tolong jangan terus diulang. Ini telinga punya batas sabar juga, aku sudah cukup sabar ya dengerin semua ocehan ibu. Cukup, sudah! "
Piring di tangannya ia hentakkan begitu saja di samping dirinya berasa tepat di atas sofa yang tadi ia duduki.