Pembaca tercinta, kami akan menggunakan izin cookie yang sesuai untuk memastikan situs web kami beroperasi dengan normal agar dapat memberi konten khusus yang lebih cocok untuk Anda dan juga memastikan Anda mendapatkan pengalaman membaca terbaik. Jika ada yang sesuai, Anda dapat mengubah izin Anda pada entri pengaturan Cookie di bawah ini.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Tambahkan Innovel ke halaman utama untuk menikmati novel terbaik.
Pembaca tercinta, kami akan menggunakan izin cookie yang sesuai untuk memastikan situs web kami beroperasi dengan normal agar dapat memberi konten khusus yang lebih cocok untuk Anda dan juga memastikan Anda mendapatkan pengalaman membaca terbaik. Jika ada yang sesuai, Anda dapat mengubah izin Anda pada entri pengaturan Cookie di bawah ini.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Pengaturan cookies anda
Pengaturan cookies ketatSelalu aktif
Dosis Terakhir Protokol Sang Dokter
UMUR UNTUK MEMBACA 18+
azisains
Romance
ABSTRAK
"Di balik meja operasi dan lampu sorot media, kami adalah musuh bebuyutan. Namun di balik pintu otopsi yang terkunci, kami adalah sekutu paling berbahaya."
Sebagai seorang *Clinical Research Associate* (CRA) idealis, dr. Kalila Syafiqah tahu tugasnya adalah melindungi pasien. Namun, saat ia menemukan bahwa kelompok plasebo dalam uji klinis obat saraf *Neuro-X* sengaja dimanipulasi hingga tewas demi IPO raksasa farmasi senilai $2 Miliar, dunianya runtuh.
Satu-satunya pria yang memegang kunci jawaban adalah dr. Raditya Vance, Kepala Tim Riset Bedah Saraf yang dingin, tak tersentuh, dan dikenal sebagai "Dokter Cold-Blooded" tanpa empati.
Demi menghentikan pembunuhan massal terselubung ini, Kalila mengambil langkah nekat: mendekati dan mengejar Raditya tanpa ragu. Namun, Raditya memiliki permainannya sendiri. Di balik topeng esnya, Raditya menyimpan dendam kelam dari masa lalu dan berniat menghancurkan sponsor dari dalam.
Kesepakatan berbahaya pun terjalin:
Di hadapan publik dan dewan etik, mereka saling menuding dan berpura-pura menjadi musuh bebuyutan. Namun di bawah kilatan pisau bedah dan ruang otopsi gelap, mereka menukar sampel obat asli, menyabotase trial, dan menjebak sang konspirator.
Ketika batas antara sandiwara, dendam, dan cinta mulai kabur—serta bahaya dari raksasa farmasi semakin mendekat—akankah Kalila sanggup menyelamatkan pasien sekaligus melunakkan hati sang dokter dingin, ataukah dosis terakhir ini akan menghancurkan mereka berdua?