Pembaca tercinta, kami akan menggunakan izin cookie yang sesuai untuk memastikan situs web kami beroperasi dengan normal agar dapat memberi konten khusus yang lebih cocok untuk Anda dan juga memastikan Anda mendapatkan pengalaman membaca terbaik. Jika ada yang sesuai, Anda dapat mengubah izin Anda pada entri pengaturan Cookie di bawah ini.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Tambahkan Innovel ke halaman utama untuk menikmati novel terbaik.
Pembaca tercinta, kami akan menggunakan izin cookie yang sesuai untuk memastikan situs web kami beroperasi dengan normal agar dapat memberi konten khusus yang lebih cocok untuk Anda dan juga memastikan Anda mendapatkan pengalaman membaca terbaik. Jika ada yang sesuai, Anda dapat mengubah izin Anda pada entri pengaturan Cookie di bawah ini.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Pengaturan cookies anda
Pengaturan cookies ketatSelalu aktif
The Moon We Could Not Keep
UMUR UNTUK MEMBACA 18+
Robert Erditama
Romance
ABSTRAK
Di balik megahnya tembok Kerajaan Haeryeong, hiduplah Lee Seon Hwa, Putra Mahkota yang sejak kecil diajarkan menjadi sempurna. Di mata semua orang, ia calon raja yang bijaksana dan kuat. Namun di balik jubah kebesarannya, ia hanya anak laki-laki yang kesepian—takut mengecewakan ayahnya, tak punya teman sejati, dan memikul beban terlalu berat untuk usianya.Hingga di bawah pohon plum yang mekar indah di Taman Timur, ia bertemu Han Seo Yeon. Berbeda dari siapa pun yang menunduk hormat dan melihatnya hanya sebagai calon penguasa, Seo Yeon melihat Seon Hwa sebagai manusia biasa: yang boleh lelah, boleh takut, dan berhak punya tempat pulang. Ia berani bicara jujur, membuatnya tertawa, dan memperlakukannya layaknya teman, bukan tuan.Dari pertemuan sederhana itu tumbuh ikatan yang perlahan berubah menjadi cinta. Di pertemuan rahasia, cahaya lentera malam perayaan, dan janji di bawah rembulan, mereka membangun dunia kecil milik berdua—tanpa gelar, tanpa aturan, hanya dua hati yang saling mengerti. Namun cinta mereka tak seharusnya ada: seorang pewaris tahta tak memiliki hati miliknya sendiri; setiap langkahnya menyangkut nasib jutaan jiwa.Saat kesehatan Raja memburuk dan bayang perang mengancam, para penasihat menuntut pengorbanan: pernikahan politik Seon Hwa dengan Putri Yoo Hye Rin dari Kerajaan Timur. Bukan kejahatan Raja yang menuntut ini, tapi hati ayah yang terbelah: “Sebagai ayah, aku ingin kau mengejar bahagiamu. Namun sebagai raja, aku tak boleh membiarkan jutaan rakyat kehilangan masa depan.”Seon Hwa berusaha melawan, namun semakin ia menggenggam Seo Yeon, semakin besar bahaya mengancam keluarga wanita itu dan kestabilan negeri. Akhirnya mereka paham: cinta tulus terkadang berarti berani melepaskan demi kebaikan orang yang dicintai.Di bawah pohon plum yang menyaksikan awal kisah mereka, perpisahan terjadi dengan kedewasaan, bukan sekadar tangisan: “Kali ini izinkan aku melindungimu,” ujar Seo Yeon. “Dengan pergi sebelum dunia menghancurkanmu karenaku.”Seo Yeon meninggalkan istana, melupakan gelar bangsawan, dan tumbuh menjadi tabib desa yang mengabdikan hidupnya untuk orang lain—bukan lagi “wanita yang dicintai pangeran”, melainkan Han Seo Yeon yang utuh. Sementara Seon Hwa menunaikan kewajibannya menjadi Raja Haeryeong, memimpin dengan adil dan dicintai rakyat, namun menyisakan ruang kosong di hatinya yang takkan tergantikan.Putri Yoo Hye Rin pun bukan musuh. Ia juga korban takdir yang menikah dengan pria yang hatinya sudah dimiliki orang lain, namun memilih menjadi pendamping setia: “Aku tak ingin mengambil tempat seseorang yang sudah ada di hatimu. Aku hanya ingin berjalan di sampingmu.”Bertahun-tahun berlalu. Luka perlahan sembuh, namun kenangan tak pernah pudar. Hingga takdir mempertemukan mereka kembali—bukan lagi pemuda yang bermimpi, melainkan dua orang dewasa yang telah menempuh jalan masing-masing. Pertemuan itu tenang, tanpa keinginan menyatukan hidup kembali. Hanya satu pertanyaan terpenting: “Apakah kau bahagia?”Di bawah pohon plum yang sama, mereka akhirnya paham: cinta tak harus berakhir dengan kepemilikan untuk menjadi abadi. “Dulu aku ingin memiliki bulan itu bersamamu,” ujar Seon Hwa. “Sekarang aku cukup tahu bahwa bulan itu pernah menerangi hidupku.”The Moon We Could Not Keep adalah kisah tentang cinta pertama, pengorbanan, dan penerimaan. Tentang dua hati yang tak gagal mencintai—mereka hanya tak memiliki waktu yang sama. Sebab ada cinta yang tak bisa digenggam selamanya, namun akan selalu bersinar menerangi jalan—persis seperti bulan yang selalu ada, meski tak pernah bisa dimiliki.