Pembaca tercinta, kami akan menggunakan izin cookie yang sesuai untuk memastikan situs web kami beroperasi dengan normal agar dapat memberi konten khusus yang lebih cocok untuk Anda dan juga memastikan Anda mendapatkan pengalaman membaca terbaik. Jika ada yang sesuai, Anda dapat mengubah izin Anda pada entri pengaturan Cookie di bawah ini.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Tambahkan Innovel ke halaman utama untuk menikmati novel terbaik.
Pembaca tercinta, kami akan menggunakan izin cookie yang sesuai untuk memastikan situs web kami beroperasi dengan normal agar dapat memberi konten khusus yang lebih cocok untuk Anda dan juga memastikan Anda mendapatkan pengalaman membaca terbaik. Jika ada yang sesuai, Anda dapat mengubah izin Anda pada entri pengaturan Cookie di bawah ini.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Pengaturan cookies anda
Pengaturan cookies ketatSelalu aktif
PAGI YANG ASING
UMUR UNTUK MEMBACA 16+
ChiRoo
Romance
ABSTRAK
“Aku benci kamu! Jijik sama kamu! Kenapa kamu selalu—”Demian tidak menahan pukulannya.Tidak sedikit pun.Ia hanya menarik Elise ke dalam pelukan, mencengkeram pinggang gadis itu, menyembunyikan wajah Elise di dadanya.“Sshh…” bisiknya, seolah sedang menenangkan binatang liar yang paling ia sayangi. “Marahlah lagi. Aku suka.”“Lepas! LEPA—”“Tidak.” suaranya rendah dan mantap. “Kamu sudah cukup kabur dariku.”Dan ketika ia hampir membawa Elise ke tempat tidur—Elise mendorongnya sekuat tenaga, napasnya tidak teratur, lalu berlari ke balkon seperti seseorang yang sedang dikejar maut.“Elise!” Demian menyusul.Gadis itu berdiri di pinggir pembatas, rambutnya berantakan, tubuhnya gemetar.Di bawah sana, kolam renang menunggu.“Elise… jangan bercanda.” suara Demian untuk pertama kalinya terdengar takut.“Aku serius.” Elise mengangkat kedua tangannya. “Kalau kamu sentuh aku lagi… aku lompat. Demi Tuhan aku lompat.”“Elise. Turun dari situ.” Demian mendekat. “Sekarang.”“Jangan DEKAT!” Elise menjerit. “Aku muak! Kamu bawa wanita itu—kamu pikir aku apa?! Hah?!”“Elise, masuk.” Demian mengulurkan tangan. “Aku tidak akan—”“Selangkah lagi, Demian, aku—”Tanpa aba-aba.Tanpa jeda napas.Elise melompat.Tubuhnya terjun dari lantai dua, menghempas air dengan suara keras—lebih keras dari yang seharusnya.Demian berlari, panik dalam cara yang bahkan ia sendiri belum pernah rasakan sebelumnya.“Elise?! ELISE—!”Ia terjun ke kolam tanpa pikir panjang.Air memercik tinggi.Tangan Demian menemukan tubuh Elise yang mengambang lemah.“Elise… Elise, buka mata kamu…”Suara Demian pecah.Untuk pertama kalinya, pecah.Ia mengangkat tubuh Elise keluar dari air, menggigil dan gemetar, menekan wajah gadis itu ke dadanya sambil berlari.“Elise… jangan gini… jangan tinggalin aku…”Bukan nada mengancam.Bukan nada dominan.Tapi seseorang yang ketakutan kehilangan satu-satunya hal yang mampu melumat egonya.