Pembaca tercinta, kami akan menggunakan izin cookie yang sesuai untuk memastikan situs web kami beroperasi dengan normal agar dapat memberi konten khusus yang lebih cocok untuk Anda dan juga memastikan Anda mendapatkan pengalaman membaca terbaik. Jika ada yang sesuai, Anda dapat mengubah izin Anda pada entri pengaturan Cookie di bawah ini.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Tambahkan Innovel ke halaman utama untuk menikmati novel terbaik.
Pembaca tercinta, kami akan menggunakan izin cookie yang sesuai untuk memastikan situs web kami beroperasi dengan normal agar dapat memberi konten khusus yang lebih cocok untuk Anda dan juga memastikan Anda mendapatkan pengalaman membaca terbaik. Jika ada yang sesuai, Anda dapat mengubah izin Anda pada entri pengaturan Cookie di bawah ini.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Pengaturan cookies anda
Pengaturan cookies ketatSelalu aktif
Tetangga suka marah
UMUR UNTUK MEMBACA 18+
holly blaze
Fantasy
ABSTRAK
Tembok Tipis di Ujung Gang
Di sebuah gang sempit di pinggiran kota, rumah-rumah berdiri rapat seperti rahasia yang saling berdesakan. Catnya mulai pudar, pagar besinya berkarat, dan suara kehidupan sehari-hari terdengar jelas karena tembok yang terlalu tipis untuk menyimpan emosi.
Di ujung gang itu tinggal seorang pria bernama Pak Rudi.
Pak Rudi terkenal bukan karena kebaikannya. Ia terkenal karena suaranya.
Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar naik, suara teriakannya sudah lebih dulu menyapa warga. Kadang karena motor yang parkir terlalu dekat pagar. Kadang karena anak kecil bermain bola. Kadang hanya karena suara sapu yang dianggap terlalu keras.
“Apa tidak bisa pelan sedikit?” suaranya menggelegar.
Anak-anak di gang itu hafal betul nada bicaranya. Mereka bermain lebih jauh dari rumahnya. Ibu-ibu yang biasa mengobrol di sore hari pun memilih bergeser beberapa meter agar tidak “kena semprot”.
Aku tinggal tepat di sebelah rumahnya.
Awalnya aku mencoba berpikir baik. Mungkin beliau sedang banyak masalah. Mungkin pekerjaannya berat. Mungkin hidupnya tidak semudah yang terlihat.
Tapi setiap hari, marahnya seperti jadwal tetap.
Suatu sore, bola milik Dika—anak kelas lima SD—tanpa sengaja memantul ke halaman Pak Rudi. Belum sempat Dika mengetuk pagar, suara itu sudah keluar lebih dulu.
“Tidak punya mata ya main?”
Dika terdiam. Matanya berkaca-kaca. Tangannya gemetar.
Aku yang melihat dari teras langsung menghampiri.
“Pak, maaf, namanya juga anak-anak. Tidak sengaja.”
Pak Rudi menatapku tajam, lalu membanting bola itu ke arah gang. Tanpa sepatah kata lagi, ia masuk dan menutup pintu keras-keras.
Sejak hari itu, gang kami terasa seperti menahan napas.
Beberapa minggu kemudian, hujan turun deras sekali. Saluran air di gang kecil itu tidak mampu menampung debit air. Genangan mulai meninggi.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan lagi.
Kali ini berbeda.
“Air masuk! Air masuk!”
Itu suara Pak Rudi.
Aku dan beberapa warga langsung berlari. Air sudah setinggi betis di dalam rumahnya. Lemari kayu mulai terendam. Karpet mengapung.
Tanpa banyak bicara, warga langsung membantu. Ada yang mengangkat barang, ada yang menyedot air, ada yang membuka saluran mampet.
Pak Rudi hanya berdiri, basah kuyup, wajahnya pucat.
Untuk pertama kalinya, ia tidak berteriak.
Ia terlihat… kecil.
Malam itu, setelah air surut, warga kembali ke rumah masing-masing. Aku hendak masuk ketika suara pelan memanggilku.
“Terima kasih.”
Aku menoleh. Pak Rudi berdiri di pagar, tidak lagi dengan wajah tegang seperti biasanya.
“Maaf… saya sering marah,” katanya lirih.
Aku tidak menjawab langsung. Aku hanya tersenyum tipis.
“Tidak apa-apa, Pak. Kita tetangga.”
Ia terdiam cukup lama. Lalu, seperti bendungan yang retak, ia bercerita.
Tentang pekerjaannya yang baru saja hilang. Tentang cicilan yang menumpuk. Tentang istrinya yang sakit dan harus pulang kampung untuk berobat. Tentang rumah yang terasa kosong dan sunyi.
“Kadang saya marah bukan karena orang lain. Tapi karena saya sendiri tidak tahu harus bagaimana,” katanya pelan.
Aku mengangguk. Untuk pertama kalinya, aku mendengar suaranya tanpa nada tinggi.
Sejak hari itu, suara teriakan di ujung gang mulai jarang terdengar. Ia masih mudah kesal, tapi tidak lagi meledak-ledak.
Suatu pagi, anak-anak bermain bola lagi. Bola itu kembali memantul ke halaman Pak Rudi.
Semua terdiam.
Pak Rudi keluar rumah. Warga yang melihat bersiap dengan kemungkinan terburuk.
Ia memungut bola itu.
Lalu melemparkannya kembali dengan pelan.
“Hati-hati mainnya,” katanya singkat.
Anak-anak tersenyum lebar.
Gang kecil itu akhirnya bisa bernapas lagi.
Dan aku belajar satu hal:
Kadang, di balik suara yang paling keras, ada hati yang paling lelah.